Backpack to Jogjakarta Part 2

Day 1 Backpack Jogjakarta

Day 2 (Candi Prambanan, muter-muter Jogja dan Kaliurang)

Hari ke dua di Jogja jam 11.00 saya dan Maggie berangkat menuju Candi Prambanan, ngaret beberapa jam dari rencana awal setelah leyeh-leyeh sepagian. Maklum, kami bertiga (saya, Maggie dan Ririe) memang jarang bertemu jadi kalau ketemu pasti ngobrol ngalor ngidul sampe ngabisin waktu.hehehehe Nah….berhubung pada perjalanan ini Ririe gak ikut jadi saya dan Maggie menuju kawasan Candi Prambanan menggunakan Transjogja. Sebetulnya Transjogja adalah angkutan umum yang cukup nyaman dan murah dengan hanya membayar Rp.3000 saja, namun dimusim liburan gini ditambah hajatan Mukhtamar Muhamadiyah ke 100 dimana Jogja dibanjiri tamu, Transjogja menjadi kurang nyaman karena penumpang harus menunggu lama dan berdesak-desakan. Terutama di tempat-tempat yang ramai dikunjungi wisatawan.

Oke, setelah hampir 1 jam perjalanan menggunakan Transjogja akhirnya saya sampai di halte Prambanan. Dari situ menuju Candi Prambanan sebenernya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi berhubung jauh dan cuaca panas banget saya dan Maggie akhirnya naik becak dengan membayar Rp.5000 itupun dengan tawar-menawar dulu.

Untuk masuk kawasan Candi Prambanan kami harus membayar Rp.20.000 untuk candi Prambanan saja atau Rp.30.000 termasuk angkutan khusus dan tiket masuk candi Ratu Boko. Tapi kami memilih untuk beli tiket yang Rp.20.000 saja,maklum dana terbatas🙂. Nah….di candi terbesar umat Hindu inilah kami puas foto-foto, kebetulan kami dapet spot yang strategis dengan view candi yang sangat bagus serta sepi dari pengunjung.

Jam 14.30, rasa lapar dan haus mulai menyerang, saya dan Maggie segera menuju warung makan lesehan yang berada di sekitar candi. Uang senilai Rp.10.000 kami keluarkan untuk seporsi lontong pecel dan gorengan serta aqua botol. Sayang, lagi enak-enaknya makan tiba-tiba hujan deras dan acara makan kami pun terganggu karna harus mencari tempat berteduh😦

Jam 16.00, kami memutuskan untuk pulang. Satu jam kemudian dimana kami hampir sampai ke rumah Ririe tiba-tiba teman Maggie mengajak kami untuk ke Kaliurang. Berhubung kami awam sama jogja jadilah kami muter-muter naik Transjogja selama 2 jam!!! Sampe akhirnya nyampe ke halte terdekat dengan jalan kaliurang. Dari sini kami terpaksa naik taksi menuju Jl. Kaliurang km. 14 tempat kos-kosan teman Maggie.

Jam 20.00, akhirnya saya, Maggie dan beberapa temannya menuju salah satu tempat nongkrong di Kaliurang. Selama perjalanan yang saya lihat hanyalah kegelapan!!! Yaiyalahhhhh……kalo pagi atas siang saya pasti disuguhkan pemandangan kaliurang yang sangat indah. Sampai di kafe teh poci Kaliurang, saya malah asik sendiri nonton pertandingan sepak bola Brazil – Belanda sampe ketiduran.

Day 3 (Taman Sari, Masjid Tua, resto Serba Sambel, Tugu Jogja dan kopi joss)

Hari terakhir di kota budaya, sayangnya sejak pagi hujan tak henti-hentinya turun hingga menjelang siang. Jam 13.00 kami baru bisa keluar rumah, dan tujuan kali ini adalah pemandian para puteri Raja, Taman Sari.  Tempat ini merupakan tempat yang sangat eksotis buat saya, tergambar jelas disini betapa istimewanya menjadi permaisuri dan puteri Raja kala itu.

Tak berapa lama kemudian, lagi asik-asiknya mengeksplorasi Taman Sari hujan pun kembali turun. Tak ada pilihan lain, berhubung perut sudah kembali lapar akhirnya kami berteduh di angkringan dan sambil makan tentunya. Selesai makan dan hujan reda, Riri mengajak kami untuk mengunjungi masjid tua dekat Taman sari. Masjid ini tergolong masjid yang unik, karena untuk menuju masjid ini kami harus menyusuri lorong-lorong gelap sampai akhirnya bertemu dengan ruangan melingkar dan bertingkat yang ditengahnya terdapat sumur sebagai tempat berwudlu. Dan ruangan melingkar inilah yang dimaksud masjid tua.

Jam 16.30 kami beranjak pergi meninggalkan kawasan Taman Sari, menyusuri jalan-jalan sempit untuk menghindari kemacetan karena Jogja tengah dipenuhi warga Muhamadiyah dari berbagai penjuru tanah air yang tengah menghadiri dan memeriahkan mukhtamar.

Tugu Jogja-Maskot kota budaya

Jam 19.30 Ririe dan Bawal mengajak kami makan malam di restoran serba sambal langganannya. Namanya juga restoran serba sambal, jadi menu andalannya ya macam-macam sambal dengan harga yang cukup terjangkau tentunya. Selepas makan direstoran ini kami menuju Benteng Vredeburg untuk menyaksikan pagelaran wayang orang yang bercerita kisah Ande-ande Lumut dan Klenting Kuning.

Tak lama kemudian kami segera menuju Tugu Jogja, yak kata orang belum ke Jogja kalau belum ke Tugu makanya hari terakhir di Jogja kami harus kesini, nggak boleh nggak.😉

Puas foto-foto di Maskot Jogja yang terletak di tengah persimpangan jalan ini, tujuan kami selanjutnya adalah kedai kopi joss disekitar stasiun Tugu, tujuannya cuma satu, nyobain kopi joss yang terkenal itu. Kopi joss telah dipesan, dan kamipun menikmati kopi yang disajikan dengan arang menyala yang langsung dicelupkan ke dalam gelas. Rasa kopi ini tak berbeda dengan kopi tubruk, yang bikin berbeda adalah……dengan bodohnya kami dikerjain untuk mengisap arang kopi joss ini karena kata Ririe arangnya manis. Alamakkkk……gigi saya dan Maggie pun menjadi hitam-hitam.🙂

Hari telah mendekati tengah malam, kami kembali pulang ke rumah Ririe dan packing untuk keberangkatan ke Dieng esok subuh. Selamat tinggal Jogja, selamat tinggal kota budaya dan 1001 pesona.

Penasaran sama rincian biaya??? Klik disini

About Aliya Mu'afa

Backpackers, graphic designer, blogger and founder triphemat.com

Posted on September 27, 2010, in Travelling. Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: