Backpacker to Dieng, Wonosobo (The Hidden Paradise of Central Java)

Telaga warna, Dieng

Sebetulnya sudah beberapa bulan yang lalu saya ber-backpacking ria ke negeri khayangan ini. Namun waktu dan hasrat menulis yang naik turun membuat saya baru menyelesaikan tulisan saya mengenai perjalanan kala itu.

Oke, langsung saja dimulai ya. Dieng merupakan sebuah dataran tertinggi di Indonesia dan tertinggi nomor 2 di dunia setelah Nepal. Karena itulah Dieng kerap kali dijuluki Negeri di atas Awan, dan benar saja, ketika menapakkan kaki di sana saya merasa hanya beberapa meter di atas awan. Selain Negeri di atas Awan, dataran tinggi yang terletak di dua kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara ini juga di juluki Negeri para Dewa. Saya juga setuju dengan sebutan itu, karena entah mengapa saya sangat merasakan aura mistis para dewa di tempat ini.

Untuk mencapai Dieng, umumnya kita harus melalui kabupaten Wonosobo dahulu kemudian naik metro bus jurusan Dieng Banjarnegara selama kurang lebih 45 menit sampai 1 jam. Namun jangan khawatir, sepanjang perjalanan anda akan disuguhkan pemandangan luar biasa indah. Kontur tanah perbukitan dihiasi kolaburasi cantik antara rumah tradisional penduduk, ladang, gunung dan cerahnya langit kala itu.

Kebetulan perjalanan saya ke Dieng merupakan tujuan selanjutnya setelah backpacking ke Jogja, jadi saya menuju Dieng menggunakan jasa travel menuju Wonosobo selama kurang lebih 3 jam dan di sambung dengan Metro bus yang sudah saya bahas sebelumnya. Cukup mudah kan??

Day One

Kala itu saya sampai di Dieng (pertigaan Hotel Bu Jono-yang terkenal itu) tepat pukul 11 siang. Sebetulnya saya telah memesan kamar di hotel tersebut dengan tarif 75.000/malam dan berniat segera check in. Tapi berhubung hotelnya sedang sepi banget akhirnya saya memilih makan siang terlebih dahulu di warung sebelah hotel. Dan dari sinilah saya berkenalan dengan tukang ojek yang menunjukkan saya penginapan yang lebih murah dan yang akan mengantarkan saya berkeliling Dieng ini.

Atas: Telaga Warna tampak dari atas bukit, Bawah: Telaga Merdada dan Sumur Jalatunda

Hotel/wisma/home stay Melati

Sebetulnya kini ada banyak penginapan di Dieng, dari kelas backpacker hingga yang setara dengan hotel berbintang 3. tapi saya memilih hotel melati ini karena tentunya harga yg murah, hanya 60.000/malam dan bisa menampung 3 orang. Fasilitas disini tentunya terbatas mengingat harga yang murah, namun jangan khawatir, semuanya masih terhitung cukup memadai.

Ojek dan angkutan wisata Dieng

Berhubung dalam perjalanan kali ini saya hanya berdua dengan sahabat saya Maggie, jadi untuk mengelilingi Dieng kami memilih jasa ojek untuk menghemat biaya. Jasa ojek dipatok dengan harga 50.000/hari/wilayah wisata (Dieng 1 atau Dieng 2) dan 25.000 untuk melihat sunrise di Gunung Si Kunir. Semua sudah termasuk tiket masuk dan jasa guide oleh si tukang ojek itu sendiri. Jadi, total biaya untuk keliling Dieng 1, Dieng 2 dan Sunrise di Gunung Si Kunir saya harus merogoh kocek 125.000. Jika ke Dieng dalam rombognan yang berjumlah 5-7 orang, kamu bisa menyewa mobil carry yang biasanya disediakan pengelola penginapan

Dieng 1 (Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa-goa, Dieng Plateau Theater, Kawah Sikidang, dan Kompleks  Candi Arjuna)

Goa Semar

Setelah sampai di penginapan dan beristirahat sejenak kamipun segera memulai berwisata di kawasan Dieng 1 yang meliputi  Telaga Warna, Telaga Pengilon, Dieng Plateau Theater, Kawah Sikidang, dan Kompleks Candi Arjuna. Tujuan pertama kami yaitu kawasan telaga warna. Telaga warna merupakan semuah danau/telaga yang konon dapat berubah warna. Telaga ini memiliki kandungan belerang hingga di beberapa titik terdapat gelembung air khas mata air belerang.

Telaga warna terletak  berdampingan dengan telaga Pengilon. Pengilon dalam bahasa jawa artinya berkilau karena saking beningnya air telaga hingga mampu memantulkan cahaya matahari.

Masih dalam kawasan wisata Telaga Warna, saya juga mengunjungi beberapa goa yang kerap kali dijadikan tempat semedi beberapa orang tertentu, diantaranya Goa Semar, Goa Jaran dan Goa Sumur serta Patung Gajah Mada. Konon dikawasan ini pernah ditanam kepala kerbau bertanduk/banteng dari salah satu partai yang berlambang kepala hewan tersebut. Sayang Goa-goa tersebut tidak bisa dimasuki sembarang orang dan sengaja di kunci.

Hujan mulai turun rintik-rintik, lapar datang lebih cepat karena udara yang cukup dingin. Rupanya tukang ojek saya paham betul apa yang sedang kami alami. Akhirnya saya dan Maggie diajak ke Dieng Plateau Theater, disana banyak penjual jajanan khas Dieng diantaranya goreng kentang yang dipotong memanjang. Sambil makan kamipun masuk ke theater untuk menonton fillm dokumenter mengenai Dieng Plateau dan fenomena alam yang terjadi disana.

Kompleks Candi Arjuna, Candi Gatot Kacat dan Candi Bima

Lepas menonton film dokumenter di theater, tukang ojek mengarahkan kami ke kawasan wisata Kawah Sikidang, Sikidang dapat diartikan juga si kijang. Dinamai tersebut karena konon kawah dikawasan ini kerap kali loncat-loncat atau berpindah-pindah lokasi. Tanah di sekitar kawah berjenis tanah kapur layaknya tanah di gunung Papandayan.

Hari semakin sore, gerimis datang lagi. Untuk mengejar waktu kami segera menuju kompleks candi yang konon tertua di pulau jawa, yaitu kompleks Candi Arjuna. Sebelum ke kompleks candi tersebut kami singgah untuk sekedar berfoto di candi Bima dan candi Gatot Kaca yang letaknya terpisah. Candi Arjuna merupakan candi yang terindah di Dieng, lokasi candi dikelilingi taman cantik bak negeri khayangan. Sumpah ditempat ini saya betul-betul merasakan aura para dewa. Tsahhhh…..

Day two

Malam belum larut, namun saya memilih untuk tidur lebih capat karena esok harus bangun pagi-pagi buta untuk mengejar sunrise di gunung Si Kunir. Jika mau menikmati sunrise, setidaknya kita harus meluar dari penginapan maksimal jam setengah 5 subuh!!! Bo, jam segitu di Dieng dinginnya gak ketulungan….makanya bagi yang ingin melihat sunrise harus menggunakan jaket extra tebal (kalau perlu dobel), kaos kaki, sarung tangan, kupluk dan masker bagi yang menggunakan motor.

Berburu sunset di puncak gunung si Kunir

Tepat jam 4 subuh saya dan Maggie bangun dan segera bersiap berburu sunrise di puncak gunung Si Kunir. Setengah jam kemudian tepat setelah kami menunaikan sholat Shubuh tukang ojek kami sudah menjemput. Oh yeahhhh sudah diduga, dinginnya sangat menusuk tulang. Namun itu saja tak akan menyurutkan niat kami.  30 menit kemudian ojek sudah sampai di bibir telaga Cebong di bawah kaki gunung Si Kunir, tempat pemberhentian terakhir bagi kendaraan bermotor dan perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mendaki kurang lebih selama 30 menit sampai 1 jam.

memandang dari puncak gunung Si Kunir

Sampai di puncak, malang bagi kami karena ternyata mendung masih menyelimuti langit Dieng hingga mentari malu-malu untuk menunjukkan pesonanya. Tapi not bad lah….di puncak gunung Si Kunir ini terhampar view yang indah luar biasa. Oke, puas foto-foto di puncak, acara selanjutnya adalah sarapan mie goreng dan (lagi-lagi) kentang goreng di pinggir telaga Cebong.

Wisata Dieng 2 (Kawah Sileri, Sumur Jalatunda, Telaga Merdada, pemandian air panas dan panen kentang)

Perut sudah terisi, perjalanan pun segera kami lanjutkan. Tujuan pertama pasca sarapan yaitu Kawah Sileri, kawah ini tak seperti kawasan Kawah Sikidang yang telah diberdayakan dengan baik. Dikawasan ini tak ada fasilitas apapun, yang ada cuma papan larangan untuk tidak mendekati bibir kawah, mungkin karena belum diberdayakan secara maksimal. Namanya juga kawah belerang, pastinya kawah ini pun tak henti-hentinya mengeluarkan asap tebal dan bau yang kurang sedap.

Dari Kawah Sileri perjalanan dilanjutkan ke Sumur Jalatunda. Konon di sumur ini segala keinginan kita akan terwujud jika mampu melempar batu sampai ketengah sumur bagi wanita dan sampai seberang sumur bagi yang laki-laki dan sambil mengucapkan keinginan tersebut.  Gampang?? Tentu tidak…ketika melempar batu dengan sekuat tenaga seakan-akan batu tersebut akan sampai ketengah sumur, tapi nyatanya tak sampai juga.

Setelah ber-make a wish di Sumur Jalatunda, kami segera menuju Telaga merdada. Tak ada yang terlalu istimewa di telaga ini kecuali seorang ibu yang tengah mencari ikan menggunakan sampan ditengah telaga. Tampak dramatis di tengah telaga yang sepi dan dikelilingi bukit.

Kawasan Kawah Si Kidang, eksplorasi gas bumi milik Pertamina dan Kawah Sileri

Dari telaga ini kami diantar tukang ojek ke pemandian air hangat yang mengandung belerang,  pemandian ini merupakan pemandian tradisional karena kolam yang ada hanya 3 buah dan tanpa sekat. Hanya ada pancuran kecil disana dan air pembuangan kolam langsung dialirkan ke sungai di dekatnya. Bahkan sampah kemasan shampo dibiarkan bertebaran begitu saja disekitar kolam.

Puas kecipak kecipuk air hangat, tujuan kami selanjutnya adalah ladang kentang yang tengah dipanen. Kenapa kami mau ikutan panen kentang? Karena eh karena Dieng merupakan penghasil kentang yang sangat produktif. Sebagian besar ladang di Dieng adalah ladang kentang, maka tiada hari tanpa panen kentang.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.30, kami segera kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak, mandi dan packing. Satu setengah jam kemudian saya dan Maggie check out dari penginaan dan meninggalkan Dieng menuju Wonosobo. Maggie untuk pulang ke Bandung dan saya ke Semarang.

Tidak ke Wonosobo kalau tidak makan Mie Ongklok

Sampai di terminal Wonosobo, saya dan Maggie segera mencari penjual Mie Ongklok, mie aneh tapi enak khas Wonosobo. Kenapa aneh?? Karena mie ini bercampur sayuran,  berbumbu kental dan disajikan dengan irisan tahu dan 5 tusuk sate sapi. Sekilas dari penampilannya, mie ini terlihat kurang menarik, tapi ketika di coba rasanya sungguh dahsyat. Pokoknya enak banget dan berhubung katanya mie ini hanya ada di Wonosobo, jadi tak ke Wonosobo namanya jika tak mencoba Mie Ongklok ini.

Info Biaya backpacker to Dieng, Tips dan Penginapan Check it here

Salam jalan-jalan🙂

About Aliya Mu'afa

Backpackers, graphic designer, blogger and founder triphemat.com

Posted on October 20, 2010, in Travelling. Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. kapan ke wonosobo lagi te???
    ikut…..

  2. yup….bener bgt that’s amazing place, sayang ga sempet kekomplek candi karena ngejar waktu, and g bisa liat sunrise kesiangan……………Sate kere g kalah delicious, di alun-alun Wonosobo bnyk jajanan enak….

  3. mau tny mba…
    penginapan yg mba singgahi di dieng itu apa?
    trs kalo gag keberatan mnta CP yg pny penginapan.
    thx

    • hola siska….waktu itu aku nginap di wisma melati…murah bangt 60rb bis ber 3. namun kondisinya ya begitu lah….. nomor kontaknya 0286 3342063. kalau mau yang murah dan nyaman bisa menginap di homestay lestari namun harganya 80rb/malam untuk 2 orang, nomor kontaknya +62 2863342026, +62 85228272404

      • Mba, Kalau keliling dieng 1 dan 2 pakai mobil bisa ndak? Apakah ada tempat parkirnya di setiap tempat wisata tersebut? Terima kasih sebelmunya.

  4. aku lg pengn bgd ke dieng nih mkanya lg cri informsi buat ksna…makasih buat infonya,,,,,

  5. bagus banget infonya tapi kok tanya ma bu jono permalam 150 rb yagh??

  6. misi,mau nanya dong.ada no tukang ojeknya ga ya?saya rencana mau kesana jadi biar langsung sama tukang ojeknya aja. makasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: