Pulau Sempu, 5 Jam Perjalanan Lumpur Untuk Mencapai Puncak Eskotisme (Part 1)

karang bolong pantai segara anakan

Mungkin saya agak ”lebay” dalam menggambarkan eksotisme pulau yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari pulau Jawa ini dengan kata-kata “Surga & Neraka”. Tapi sejujurnya memang itulah yang saya dan 28 orang lainnya rasakan dalam perjalanan menuju pantai Segara Anakan di Pulau Sempu.

Cerita berawal dari keikut sertaan saya pada komunitas Odong-odong traveller di sebuah situs jejaring sosial, dan berhasil menjadi peserta pada trip rutin mereka setelah bersaing secara ketat dengan anggota komunitas lainnya. Kenapa bersaing secara ketat??? Konon kabarnya hanya orang-orang terpilih yang bisa ikut trip ini. Yang bisa diajak ugal-ugalan, begitu katanya ketika saya tanya. Koordinasi demi koordinasi telah dilakukan dan singkat cerita segala persiapan menuju Pulau Sempu telah benar-benar matang. Odong-odong traveller sendiri merupakan komunitas traveller dengan budget yang sangat amat murah. Bayangkan saja, untuk trip ke Sempu selama 4hari ini hanya menghabiskan budget 350.000/orang, saya betul-betul tidak mengeluarkan uang lagi kecuali untuk bayar toilet dan beli wedang jahe di pom bensin.

Suasana bus yang riang bersama Odong-odong traveller

Perjalanan di mulai dari Pasar Festival Kuningan sebagai meeting point menggunakan bus sewaan ukuran sedang. Perkiraan meleset, perjalanan menggunakan bus yang diperkirakan tidak lebih dari 20 jam ternyata memakan waktu hingga 30 jam untuk sampai pantai Sendang Biru, tempat penyebrangan menuju Pulau Sempu. Rencana awal untuk menginap dengan mendirikan tenda di pantai Segara Anakan terpaksa kami urungkan karena hari terlanjur gelap, akhirnya kami bermalam di Sendang Biru, ditemani kapal kayu dan deru ombak yang menghempas. Lepas Magrib, setelah tenda didirikan kami ber-29 berkumpul untuk kembali berkoordinasi sambil menikmati sate ikan tuna, makanan khas dan ”wajib” di pantai ini sebagai makan malam.

subuh-subuh masak buat sarapan

sunrise cantik di sendang biru

Keesokan subuhnya, saya sebagai seksi masak-masak di bantu ambar menyiapkan nasi goreng ”ala kadarnya” sebagai sarapan pagi sementara yang lainnya membereskan tenda.  Sambil menunggu air pasang agar perahu bisa digunakan, kami menyempatkan diri untuk berburu sunrise. Tak berapa lama kemudian penyebrangan ke Pulau Sempu sudah bisa kami lakukan.

Neraka itu

Hanya butuh sekitar 10-15 menit untuk menyebrang dan kami sudah sampai di tepi Pulau Sempu yang berkarang dan ditumbuhi pohon bakau. Tepian ini lah yang disebut dengan Teluk Semut. Dari sini perahu tak bisa terlalu menepi, kami terpaksa turun ke air untuk mencapai daratan. Dan… kami mulai menyusuri ”neraka” itu.

tiba di teluk semut, tepi pulau sempu

Karakteristik pulau sempu yang merupakan cagar alam tak berpenghuni adalah hutan hujan tropis yang basah dan rapat. Jalan yang kami lalui merupakan jalan air yang licin dan berlumpur karena  sebelumnya diguyur hujan. Tak jarang kubangan lumpur tersebut dalamnya hingga selutut orang dewasa. Yang lebih menyiksa lagi, acap kali kami menginjak karang yang tertutup lumpur hingga membuat kaki lecet dan luka gores. Rata-rata dari kami memilih untuk ”nyeker” (termasuk saya), beberapa karena merasa lebih leluasa dan beberapa lainnya karena sendal mereka putus akibat trek yang ekstrim.

Semakin jauh memasuki hutan, trek semakin tidak bersahabat. Semakin licin dan kubangan lumpur yang kami temui semakin banyak dan dalam. Tak ada pilihan, saya dan lainnya terpaksa mengambil jalan terjal yang (juga) licin dengan kemiringan lebih dari 25 derajat sambil berpegangan dengan tumbuhan dan akar hutan. Dengan kondisi jalan yang seperti ini tak sedikit dari kami yang jatuh berkali-kali (termasuk saya). Bahkan mas Shandi, salah satu teman Odong-odong jatuh hingga tangan kirinya patah dan terpaksa melanjutkan perjalanan dengan dipapah oleh teman lainnya.

trek ektrim hutan tropis pulau sempu yang rapat dan berlumpur

Saya, yang tidak terbiasa dengan trek yang menyiksa ini malah hampir kehabisan tenaga. Stress mulai terasa ketika perjalanan yang berat ini tak juga sampai, belum lagi komentar orang-orang yang selalu bilang kalau perjalanan sudah dekat, tinggal setengah jam lagi padahal dari tadi gak sampai-sampai dan treknya justru semakin berat. Penampilan sudah semakin gak karuan, jilbab saya sudah sangat berantakan, belum lagi kaos dan jeans yang penuh lumpur. Busuk banget deh pokoknya. Tapi saya gak peduli, yang penting sampai segara anakan.

4 jam trekking ternyata belum cukup, beruntung saya bertemu Amri (ketua rombongan Odong-odong) yang bersedia bawain daypack saya. Perjalanan terasa sedikit lebih ringan. Lebih beruntung lagi saya bertemu dengan rombongan Odong-odong lainnya, sedikit senda gurau dan kekonyolan cukup menyemangati saya yang hampir putus asa. Sampai akhirnya kami harus melewati jembatan ”shiratal mustaqim”, jembatan yang cuma berupa sebatang kayu penuh lumpur (kebayang dong ya licinnya kayak apa), sementara dibawahnya terdapat kubangan lumpur bercampur batu karang  besar siap menyambut orang yang bisa saja terjatuh.

jembatan "nista"

Lepas dari jembatan nista itu, perjalanan ternyata semakin dekat dan trek sangat sempit. Beningnya air segara anakan yang berwarna hijau kebiruan terlihat dari bibir tebing memacu saya untuk segera sampai. 5 jam berlalu,akhirnya saya tiba di pantai Segara Anakan, pantai yang airnya berasal dari samudra hindia yang masuk melalui karang bolong. Pantai ini sendiri sebetulnya adalah danau berpasir putih karena dibatasi oleh bukit dan tebing tinggi disekitarnya. Tiba di pantai cantik ini membuat saya sedikit khilaf (hihihihihi), saking senangnya saya berteriak kegirangan sambil loncat2 sampai teman Odong-odong lainnya malu ngakuin kalo saya bagian dari rombongan mereka. Biarin dehhh….yang penting puas. Hihihihihi

cantiknya pantai segara anakan pulau sempu

To be continued…..Syurga itu

About Aliya Mu'afa

Backpackers, graphic designer, blogger and founder triphemat.com

Posted on November 29, 2010, in Travelling. Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. Wahhh, seru juga yah…
    justru yang jadi cerita seru malah perjalanannya bukan tujuannya, hehe
    sayang diriku ngga jadi ikut

  2. sepatu lu dmn le?

  3. cara untuk bergabungnya gimana sihh ?
    Kok gak d tampilin alamat websitenya…

  4. keren!!!
    gmn ya cara ikut komunitas odong-odong itu?

  5. saya nyusul..minggu depan insyaAllah brgkt..🙂

  1. Pingback: Pulau Sempu, 5 Jam Perjalanan Lumpur Untuk Mencapai Puncak Eskotisme (Part 2) « Corat – coret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: