Mungkin bukan jodoh, ya sudahlah….

sebelum tulisan bertema curcol (curhat colongan) ini,  saya juga sempet nulis tentang perasaan saya yg suka ngerasa sendirian. disitu saya sedikit membahas tentang hubungan saya yang tidak jelas dengan seorang laki-laki yg dikenalin teman. kini, hubungan itu sudah jelas.  dan saya tidak lagi gamang.

sejak pertama kali dikenalkan teman, sepertinya laki-laki itu (sebut saja namanya X) memang berniat untuk penjajakan dengan saya, bukan untuk teman biasa, karena menurut keterangan dari teman, ia memang sedang serius mencari calon istri, maklum usianya 5 tahun diatas saya. dan itu terlihat jelas dari caranya memperlakukan saya dan dari bahan obrolan kami.

Dimata saya, dia adalah sosok yang cerdas, terlepas dari profesinya yang seorang wartawan senior,dia adalah laki-laki berwawasan luas,berpola pikir modern dan seorang pekerja keras. setidaknya itu yang saya lihat.

singkat cerita, akhirnya kami bertemu dan dari sejak pertemuan inilah saya merasa hubungan kami semakin dekat, dan secara tiba-tiba ia mengutarakan bahwa ia sebetulnya takut menikah karena alasan takut tidak bisa memberikan nafkah lahir (ekonomi) yang layak. saya pun menanggapi pernyataannya dengan sudut pandang saya bahwa pernikahan tidak melulu soal finansial meskipun saya akui bahwa faktor itu punya peranan penting. buat saya meski punya peranan penting, toh faktor finansial bukan segala-galanya, rizki mah bisa dicari, apalagi jika sama-sama bekerja. menikah atau berkeluarga adalah perjuangan jangka panjang di jalan Tuhan, bukan kewajiban memenuhi kebutuhan finansial pasangan semata.

beberapa kali saya meyakinkan dia soal ini,dan sebanyak itu pula ia menyangkalnya dengan data-data yang ia ketahui dilapangan.  hari berganti hari sampai akhirnya ia kembali mengirimi saya sms berisi pernyataan yang mengagetkan bahwa sikap saya membuatnya takut. ketika saya tanya kenapa dia malah menjawab bahwa ia adalah seorang yang jarang beribadah, saya yg merasa tak menuntut apapun semakin bingung. dari keterangan yg berhasil saya korek darinya, ternyata dia risih dengan saya yang selalu membahas tentang pernikahan, yang mengherankan adalah, saya hanya menanggapi pernyataan dia tentang ketakutannya menikah, tapi kenapa dia jadi risih? bukankah dia duluan yang mulai?

hari berganti hari, sejak kejadian itu hubungan kami merenggang dan tanpa kepastian.  ia pun menjadi sulit dihubungi via telpon meski sms tetap dibalas ala kadarnya. sampai akhirnya saya berhasil meminta penjelasan atas semua ini. dan lagi-lagi saya mendapatkan pernyataan yang sangat mengagetkan.  ada dua point yang berhasil saya cerna dalam hal ini.

pertama, dia menganggap saya sosok yang belum seimbang bila diajak bertukar pikiran karena menurutnya saya adalah sosok dirinya 5 tahun yang lalu. saya agak tersinggung dalam hal ini, saya memang 5 tahun dibawah dia,jadi wajar saja kalau ada sikap saya yang dianggap belum matang, tapi kalau masalah pola pikir dan wawasan, saya terhitung yang cukup nyambung untuk ngobrol dan bertukar pikiran dengan siapa saja bahkan dengan seorang filsuf sekalipun. tapi ya sudahlah, nggak ada gunanya saya tetap bersikeras.

kedua, dia menyatakan bahwa ia merasa tidak nyaman dengan jilbab  saya.  dan yang paling saya tidak terima adalah dia menyatakan bahwa saya sosok yang fanatik dengan segala atribut keagamaan yang saya kenakan. ya ampunnnn…..saya kaget bukan kepalang, dan tentunya tidak habis pikir dengan pernyataannya.  sebisa mungkin saya membela diri dalam menanggapi ini, mana mungkin seorang fanatik memiliki pergaulan luas dari berbagai kalangan etnis,agama,suku dan ras seperti saya. mana mungkin seorang fanatik dapat bekerja dimana Islam  hanya agama minoritas didalamnya dan saya tetap merasa nyaman. sedikit berapi-api saya menyatakan hal tersebut namun ia tetap bersikeras dengan pernyataannya. masih terngiang hingga keesokan paginya kata-katanya yang ini ” kamu orang yang menyenangkan,aku akui itu,tapi aku gak nyaman dengan jilbabmu dengan aku yang seperti ini,aku suka nongkrong sampai pagi bahkan kadang hingga “minum”,aku juga suka nonton midnight gak mungkinkan aku ngajak kamu yang berjilbab?” oke kini jelas sudah, masalah ada pada dirinya, dan saya yang di-diskriditkan. sedikit kesal,tapi saya sadar,gak ada gunanya jika saya luapkan.

suasana hening sejenak, ia lalu melanjutkan keterangannya bahwa ayahnya sama dengan ayah saya yang seorang ustad di sebuah perguruan agama, namun beberapa tahun silam diketahui bahwa 3 orang teroris yang kala itu heboh diberitakan berasal dari perguruan dimana ayahnya mengajar. ia pun menjadi apatis dalam memandang sebuah nilai-nilai religius. tak heran ia menganggap saya  yang  jelas-jelas moderat sebagai sosok fanatik.

sesak menggelayuti,tapi saya berusaha bertahan hingga telpon ditutup. perlu saya tegaskan, saya tidak kecewa dengan hubungan kami yang tidak berlanjut, tapi saya kecewa dengan penilaiannya terhadap saya yang sangat menyudutkan dan sangat terburu-buru karena umur perkenalan kami yang kurang dari 2 bulan. tak lama telpon di tutup, ia mengirimi saya sms berisi kata maaf. tak saya gubris dan saya lebih memilih untuk tidur.

keesokan paginya,ia kembali mengirimi kata maaf  via sms. dan saya membalas bahwa tak ada yang salah diantara kami. ia pun kembali membalas “sebulan lagi umurku 29 th, dan aku betul-betul butuh seorang yang siap menjadi sosok istri, dan sepertinya kita tidak untuk kesitu”. sambil menghela nafas saya membalas “ya mungkin belum jodoh,atau mungkin kamu yang terlalu terburu-buru menilai aku,mungkin ya”. dan itu jadi sms terakhir karena tak ada balasan lagi.

belakangan, saya lihat status FB-nya seputar masa lalu yang masih membelenggunya hingga sekarang sampai ia sendiri tak berani memikirkan masa depan. kini semakin jelas, sepertinya alasannya ditelpon beberapa waktu lalu hanya pepesan kosong.

mungkin bukan jodoh, ya sudahlah….

mungkin menurut Tuhan ia bukan yang terbaik untukku, ya sudahlah….

mungkin …..

ya sudahlah, saya gak punya waktu untuk terus berlarut-larut.

keep moving on!!! buat siapapun yang pernah kecewa, dan buat siapapun yang masih terbelenggu masa lalu.

About Aliya Mu'afa

Backpackers, graphic designer, blogger and founder triphemat.com

Posted on January 10, 2011, in my journal. Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. commentku : dia hidup untuk masa lalu..bukan untuk masa sekarang apalagi untuk masa depan..omg..come on…😉

  2. dia tidak siap menerima perempuan sepertimu.. krn dia masih memikirkan masa lalu dan masih ingin bersenang-senang.. *sok iyeh gini*

    moving on-nya Andien for you ^.^

  3. Saat satu pintu tertutup ada satu atau lebih pintu lain yang terbuka, so dalam hal ini fokus bisa jadi salah kaprah.

    Salah satu doa yang bagus:
    Ya Allah.. berikanlah aku kekuatan untuk meraih apa yang bisa kudapatkan, keikhlasan untuk melepas apa tidak bisa kudapatkan dan kebijaksanaan untuk bisa membedakan di antara keduanya.

    Life is the art of possibility, kita cuma dituntut untuk berdoa dan berusaha semaksimal mungkin, kepastian hasil akhirnya adalah rahasia-Nya

    Sekedar sharing, itung2 tukeran dengan info green canyonnya hehe bermanfaat bgt, lg mau coba jd back packer kesana, insya Allah.

  4. Sebelumnya salam kenal, Mbak Aliya

    Mengenai isi postingan cerita Mbak, izinkan saya berbagi secuil pikiran.

    Betul, masalah ada di pihak si laki-laki, dia yang membuat dirinya sendiri rendah, jadi Mbak hanya perlu memaklumi sebisanya saja. Tapi ini jadi preseden yang baik buat Mbak ke depannya, gelagat dan tipe macam begini banyak sekali di luar sana, jadi nanti kalau nemu yang begini lagi, Mbak tak akan lagi kaget atau jantungan. Well, life must Gogon.😛

  5. good insight…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: