Situs Megalitikum Cianjur, situs bersejarah dengan akses yang rusak parah

situs megalitikum gunung padang, cianjur

Pagi itu, saya sedang bersantai nonton televisi sambil menikmati sarapan pagi saat weekend. Acara yang saya saksikan kala itu adalah harmoni alam, sebuah acara di trans tv yang menampilkan kegiatan masak memasak di alam terbuka dengan cara yang alami dan serba ala kadarnya. Kebetulan, lokasi yang diambil kala itu sangat mencuri perhatian saya yang suka jalan-jalan. Sebuah lokasi situs purbakala yang tenang dan sejuk khas bumi parahyangan dengan hamparan kebun teh. Belum lagi lokasi ke dua dengan latar belakang air terjun. Saya pun segera mencari tau dimana lokasi tersebut diambil. Dan tak berapa lama akhirnya saya tau bahwa kedua lokasi tersebut adalah Situs Megalitikum dan Curug Cikondang, keduanya terletak di Gunung Padang, Kecamatan Cempaka, Kab Cianjur.

Situs Megalitikum Cianjur merupakan situs megalitik berbentuk punden berundak yang terbesar di Asia Tenggara. Ini mengingat luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m2 dengan luas areal situs sendiri kurang lebih sekitar 3 ha. Punden berundak Gunung Padang, dibangun dengan batuan vulkanik masif yang berbentuk persegi panjang. Bangunannya terdiri dari lima teras dengan ukuran berbeda-beda. Batu-batu itu sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia dalam arti, belum dikerjakan atau dibentuk oleh tangan manusia. (sumber: http://ekadili.multiply.com/photos/album/10)

Situs itu diperkirakan dibangun kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun. (sumber: http://arkeologi.web.id/articles/arkeologi-prasejarah/1258-menerawangi-indonesia-tua-di-gunung-padang )

mobil bang Adi, sedan tua yang ternyata tangguh

Perjalanan pun mulai saya rencanakan dengan mengajak beberapa teman via FB. Banyak yang tertarik, namun akhirnya hanya 3 orang yang benar-benar ikut termasuk saya. Itupun diluar rencana awal. Semula, berbekal informasi perjalanan teman-teman dari Komunitas Odong-odong Traveller, saya merencanakan untuk berangkat menggunakan bus jurusan Kp.Rambutan – Cianjur dan kemudian menyewa angkot. Namun rencana tersebut urung dilakukan karena yang ikut hanya ber-3, dana yang akan dikeluarkan untuk menyewa angkot jatuhnya akan membengkak jika dibagi 3. Kebetulan Bang Adi (salah satu teman yang ikut), memutuskan menggunakan mobilnya saja untuk menuju lokasi.

Berhubung saya hanya tau akses bila menggunakan angkutan umum,alhasil kami hanya berbekal google map. Dan informasi dari google map inilah yang sangat menyesatkan dan menyita waktu perjalanan hingga 7 jam lamanya. Menurut google map, jalur yang harus kami tempuh adalah via sukabumi dengan melewati 7 pasar yang macetnya ampun-ampunan. Belum lagi update lokasinya yang lambat hingga membuat kami 2 kali salah jalan.

Akhirnya, kami sampai pada gang yang menunjukkan arah Situs Megalitikum. Di depan gang terdapat papan petunjuk arah yang menunjukkan bahwa situs  berjarak 20 Km lagi dari titik tersebut. Perjalan super berat pun dimulai dari mulut gang, jarak 20 Km yang sedianya dapat ditempuh dengan waktu 30 menit harus kami lalui selama 2 jam karena jalan yang menanjak dan  rusak parah. Aspal terlihat bopeng dimana-mana dan tergenang air, belum lagi jalan yang sempit membuat mobil harus berhenti ketika saling berpapasan dengan mobil lain. Parahnya lagi, mobil bang Adi yang kami tumpangi adalah jenis sedan tua keluaran awal 90-an. Kebayang dong perjalanannya kayak apa. Beruntung bang Adi adalah sopir yang handal dan beberapa kali mengikuti kejuaraan rally.

lampegan, terowongan tua yang tengah dalam perbaikan

Perjalanan belum selesai ketika kami menemui jalan buntu, sebuah jalan menyempit yang disisi kanannya terdapat stasiun kecil kereta api bernama lampegan. Penasaran, kami pun turun dari mobil dan menemukan sebuah terowongan kereta api yang sudah sangat tua dan sedang diperbaiki. Konon, terowongan ini adalah terowongan lampegan  salah satu jalur kereta api tertua yang menghubungkan Bandung dan Cianjur. Namun beberapa tahun lalu terowongan tersebut terkena longsor dan kini masih terus diperbaiki. Jika sudah kembali normal dan stasiun dapat difungsikan. Masyarakat sekitar akan sangat terbantu dalam hal transportasi.

anak-anak tengah bermain diatas rel kereta

eksotisme terowongan lampegan

Setelah puas mengabadikan eksotisme terowongan tua, kami pun segera melanjutkan perjalanan dengan berbalik ke arah yang benar. Jalan semakin menanjak dan dingin mulai menyumsum. Pada tahap ini, beruntung kondisi jalan sudah lebih baik meskipun lebar jalan lebih sempit. Tapi kami sangat menikmati karena pemandangan yang disuguhkan sangat indah dan memanjakan mata dengan hamparan kebun teh yang hijau. Tak berapa lama, kami sampai dipertigaan desa dimana terdapat warung dan kantor polisi yang terlihat sangat sepi. Ditempat ini, kami kembali bertanya pada ibu pemilik warung mengenai keberadaan situs megalitikum. Dari keterangan ibu tersebut kami akhirnya mengetahui bahwa jalan menuju situs sudah tidak terlalu jauh namun kondisi jalannya sangat parah dengan tanjakan super curam dan jalan berbatu yang belum diaspal, belum lagi jalan yang licin karena sebelumnya telah diguyur hujan. Tidak mungkin rasanya bisa dilalui oleh sedan tua milik bang Adi. Tak mau mengambil resiko namun tak mau menyi-nyiakan perjuangan kami yang sudah sejauh ini, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa jasa ojek seharga 20.000 PP.

view sepanjang perjalanan menuju situs megalitikum

Serasa dibonceng motor trail (padahal motor bebek) kami pun mengarungi trek offroad tersebut, tak henti-hentinya saya beristighfar dan bershalawat karena takut terjatuh. Lebih parah lagi Rindy, teman saya yang hampir menangis melewati kejamnya jalan berbatu yang menanjak dan licin. Tak berapa lama, akhirnya kami sampai di Situs Megalitikum terbesar se-Asia tenggara. Dilihat dari gerbangnya, sekilas situs ini nampak seperti gerbang pemakanam. Ternyata, itu hanya gerbang masuk tangga yang akan membawa kami ke situs purbakala. Situs itu sendiri terletak diatas bukit dan kami harus menaiki tangga untuk mencapainya. Tangga yang kami lalui bukan sembarang tangga, tangga tersebut terbuat dari bebatuan purbakala yang tidak beraturan dan sangat curam tanpa pegangan di beberapa titik dengan jumlah anak tangga yang tidak mampu kami hitung. Dengan kondisi ini, kami menyebutnya tangga nista.

tangga nista

Setelah hampir kehabisan nafas melewati tangga, akhirnya kami sampai di situs. Tak banyak yang dapat kami lihat dengan jelas karena sesampainya kami berbarengan dengan turunnya kabut. Suasana sempat agak mencekam mengingat tempat ini sangat sepi karena hari terlanjur sore, aura-aura mistispun mulai terasa. Namun kami berusaha untuk tetap berpikir positif. Sambil menunggu kabut naik, kami terus menata nafas. Setelah kembali terang, kami pun puas berfoto di situs yang merupakan warisan sejarah peradaban manusia purbakala yang sangat berharga ini.

Ketika sedang asik berfoto, beberapa orang bapak-bapak menghampiri kami. Sempat ragu untuk menyapa akhirnya salah satu bapak memulai untuk menyapa kami terlebih dahulu. Ternyata bapak tersebut bernama pak Nanang, seorang  penjaga situs dan biasa memberikan keterangan yang berkaitan dengan situs ini. Tak sungkan beliaupun menerangkan apa-apa yang tidak kami tanya sekalipun. Termasuk mengenai bebatuan jenis andesit yang berbunyi nyaring karena mengandung kadar besi yang tinggi. Konon, batu jenis tersebut dijadikan alat musik bagi manusia purbakala. Pak Nanang juga menerangkan pada kami bahwa situs ini memiliki beberapa ruang dengan berbagai fungsi.

situs megalitikum yang tertutup kabut

salah satu gerbang/jalan utama pada situs megalitikum

salah satu batuan andesit yang terdapat pada situs megalitikum

Sadar hari semakin sore dan perjalanan pulang sangat berat dan panjang, akhirnya kami memutuskan untuk kembali menggunakan ojek meskipun belum puas rasanya mengeskplorasi tempat bersejarah ini.

Sebetulnya ada satu tempat lagi yang ingin kami kunjungi,khususnya saya sebagai pecinta air terjun yaitu Curug Cikondang, sayang kami tidak memiliki waktu lagi dan jalan menuju curug jauh lebih parah dibanding jalan menuju situs.

Setelah bertanya pada tukang ojek, akhirnya kami pulang melalui jalur yang berbeda dengan jalur keberangkatan. Jalur pulang yang kami pilih yaitu jalur puncak. Dan ternyata, jauh lebih dekat dan cepat. Waktu keberangkatan yang kami tempuh dengan waktu hingga 7 jam dipangkas menjadi 3,5 jam saja pada kepulangan karena melewati jalur yang benar.

Perjalanan ini, bukan sebuah kunjungan biasa. Tapi sebuah petualangan luar biasa yang memberikan kami pengalaman yang tidak ternilai.

menikmati segala pesona purbakala situs megalitikum

Akses menuju Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur:

  • Dari Jakarta :
    1. Menggunakan angkutan umum jurusan  Kp. Rambutan-Cianjur, turun di terminal cianjur. Dari terminal cianjur naik angkot jurusan cianjur-sukacana. Dalam hal ini sebaiknya anda sekalian menyewa angkot tersebut karena angkot tidak mencapai hingga situs megalitikum kecuali pada musim liburan anak sekolah. Sewa angkot sekitar 200.000/angkot tergantung negosiasi.
    2. Menggunakan mobil pribadi melewati jalur puncak pass, lurus terus hingga pertigaan cianjur lalu ambil kanan kearah sukabumi, beberapa kilometer kemudian anda aka menemukan gang situs megalitikum. jangan melewati jalur sukabumi karena jalur tersebut memutar dan sangat macet karena melewati 7 pasar.
  • Dari Bandung :
    1. naik kereta Bandung-Cianjur dari stasiun Ciroyom, turun di stasiun cianjur lalu disambung dengan menyewa angkot atau elf.
    2. naik bus jurusan sukabumi, turun di depan gang situs megalitikum lalu lanjut naik ojek. Namun ini tidak disarankan karena ongkos ojek yang mahal. Pada tahun 2008 saja hingga Rp. 40.000 sekali jalan. Belum lagi ketika pulang, kita akan kesulitan mencari ojek.

About Aliya Mu'afa

Backpackers, graphic designer, blogger and founder triphemat.com

Posted on January 10, 2011, in Travelling. Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. duh neng kacian banget capek yach ????? salam damai dan hormat dari madura jawa timur

  2. pengen backpacker kesana deh al…

  3. wah..jadi kepengen trvling ke situ nich!! itu bentuknya ada yg mirip myramid y?

  4. mantap kaka… salam kenal ya… kalau jalan2 ajak2 boleh ya kaka…😀

  5. rumahq di lampegan kalo ksna lgi,mampir yeah.. kalo ke curug cikondang ambil jalur campaka bkan ke cikancana,

  6. Salam kenal Aliya….saya juga seneng jalan, tp sekarang lbh sering ditemenin sama si semok ( vespa ), pengen banget kesana, kira2 vespa saya bisa gak yah lewat jalan yg Aliya lewatin…

  7. Salam kenal mbak Aliya…aku udah lama pingin ke situs ini, tapi kalo PP rasanya kurang puas, ada info penginapan gak disekitaran terminal atau sekitaran situsnya…trus kalo dari terminal cianjur kira2 berapa jam untuk sampe ke situ? thanks ya🙂

  8. ajak2 lah,, hehe

  9. Jadi pengen ke sana, tp kok jauh amat ya dari Banyuwangi

  10. kak, itu kalau sendirian gmna yah kak, apa harus sewa angkot juga? hemat mana naik kereta api ke arah puncak atau naik bus dari kampung rambutan kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: