Explore Beautiful Bromo & Arround Part 1

gunung batok, bersebelahan dengan gunung bromo

Bromo, adalah gunung api yang masih aktif di Jawa Timur dengan ketinggian 2392 Mdpl. Kecantikannya bahkan terkenal hingga ke mancanegara dengan menjadi salah satu dari lima tempat terbaik menyaksikan matahari terbit. Maka, tak heran bila di bromo banyak turis asing yang datang hingga berkali-kali hanya untuk menyaksikan cantiknya Bromo yang bersanding dengan gunung Batok saat matahari terbit dari gunung pananjakan.

Dan saya pun merasa terpanggil untuk ikut menjadi bagian penikmat keindahan bromo. dengan beberapa teman, akhirnya kami melakukan perjalanan ala backpacker pada akhir desember 2011 lalu.  namun tentunya tujuan kami bukan hanya bromo, tapi sekaligus mencicipi derasnya jeram di sungai pekalen atas probolinggo dan menengok curug madakaripura.

Perjalanan dimulai dari stasiun pasar senen untuk naik kereta ekonomi Matarmaja tujuan malang. Di sini, saya bertemu beberapa teman baru yang akan menjadi teman seperjalanan. Diantaranya Abe dan Esthi yang berprofesi sebagai jurnalis, Deni, Rina dan Rahmi yang berprofesi sebagai pencerdas bangsa alias guru. Perjalanan menuju malang di tempuh kurang lebih selama 18 jam. Bikin pantat tepos dan tulang serasa remuk karena pegal luar biasa. Ya, beginilah jalan-jalan ala backpacker.

Rafting Extrim Sungai Pekalen Atas Probolinggo.

Happy Rafting Pekalen Atas

Sampai di stasiun malang, tujuan kami selanjutnya adalah kota probolinggo untuk mencoba rafting di sungai pekalen atas yang terkenal extrim karena memiliki jeram yang deras dengan karakter yang bervariasi dan melewati air terjun serta goa kelelawar. untuk mencapai probolinggo, dari stasiun malang naik angkot menuju terminal arjosari malang kemudian dilanjutkan dengan bus tujuan jember lalu turun persis di depan terminal probolinggo.

Dari terminal probolinggo menuju camp songa rafting pekalen atas kami terpaksa mencarter angkot karena memang tidak ada angkutan umum yang langsung menuju kesana.  perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan jalan yang berkelok dan membelah hutan serta melewati pabrik gula milik salah satu pejabat masa orde baru.

Hari semakin sore, langit semakin gelap karena mendung yang datang diiringi gerimis. Panik dong yah, secara mau main-main di sungai kok ya hujan. Ditambah dapet telpon dari pegawai songa rafting jika kita sebaiknya rafting di pekalen bawah aja mengingat hujan yang akan datang dan takut membahayakan. Yah…udah jauh-jauh dari Jakarta, menempuh perjalanan 20 jam lebih dan berharap mencicipi sensasi rafting di pekalen atas yang melewati air terjun siangin-angin. semuanya terancam kandas. Dengan sedikit negosiasi Alhamdulillah kami akhirnya di perbolehkan untuk rafting di pekalen atas namun dengan tambahan kru dan tim SAR, kami hanya ber-6 namun menggunakan 2 perahu karet yang diisi masing-masing 1 orang kru dan 2 orang tim SAR.

air terjun siangin-angin dan goa kelelawar

basah kuyup diguyur air terjun siangin-angin

Dan, pengarungan 12 Km sungai pekalen atas pun dimulai setelah sebelumnya kami di guyur hujan deras selama perjalanan ke starting point menggunakan pick-up. Belum apa-apa, kami sudah disambut dengan jeram ekstrim hingga harus berkali-kali merunduk setelah mendapat aba-aba “BUMM”.  Kami hampir tidak pernah menggunakan dayung karena derasnya arus sungai yang membawa kami ke hilir. Badan terus mergoyang diatas perahu karet yang mengikuti aliran sungai. Sampai akhirnya kami melewati sebuah goa kelelawar dengan bau yang sangat menyengat. Sempat terkagum sejenak, namun kru songa rafting memberi aba-aba untuk terus melakukan pengarungan karena beberapa saat lagi kami akan melewati goa kelelawar yang jauh lebih besar serta air terjung siangin-angin. benar saja, hanya hitungan menit kami disambut dengan guyuran air terjun yang jatuh tepat diatas kepala diiringi bau amoniak yang sangat menyengat dari goa kelelawar.

Di point inilah kami berhenti sejenak untuk berfoto bersama gagahnya air tejun siangin-angin yang baru saja kami lewati sambil beristirahat. Puas berfoto, kami kembali mengarungi jeram-jeram selanjutnya. meski tidak se-ekstrim jeram sebelum melewati air terjun, namun tetap saja sukses membuat kami berteriak seru.

mengarungi 12 Km sungai pekalen atas probolinggo

enjoy rafting...

2 jam berlalu, dan 12 Km sungai pekalen atas berhasil kami lewati dengan selamat. Seru? Tentu, dan pastinya diikuti rasa lapar. Sampai ke markas songa rafting kami sudah disambut dengan makan siang “kesorean”.  Magrib menjelang, setelah mandi dan berkemas kami segera melanjutkan perjalanan ke terminal probolinggo dan menuju destinasi selanjutnya. Bromo.

Bromo, Si Cantik Berselimut Kabut.

Dari terminal Probolinggo menuju Bromo kami menggunakan Bison, angkutan elf yang juga biasa disebut taksi bromo. Harga sewa satu bison berkisar 250-275.000 dengan kapasitas maksimal 15 orang. namun karena hari sudah malam, tawar-menawar bison menjadi alot.  Kami dipaksa menyetujui sewa seharga 300.000. namun dengan negosiasi ala ibu-ibu yang kehabisan uang belanja, akhirnya kami deal di harga 260.000. Yay!!! *nari pom-pom*

Bison hanya mengantarkan kita sampai di cemoro lawang. titik terakhir penggunaan mobil pribadi /angkutan umum. Selebihnya kita akan menggunakan hardtop/jeep karena medan yang berat. Disamping itu, pewajiban menggunakan hardtop sewaan penduduk juga bertujuan pemberdayaan ekonomi secara maksimal. Yeah, jadi walaupun sudah bawa mobil pribadi sekalipun sudah 4wheel drive tetap saja kita wajib sewa hardtop penduduk ya.

menanti sunrise yang tertutup kabut

view padang pasir bromo

padang pasir gunung bromo

Malam itu dingin belum terlalu menusuk, masih 11-12 sama dinginnya malam di Ciwidey, Bandung Selatan. Tapi menjelang dini hari suhu turun drastis, jaket tebal, kaos kali yang dipasang dobel serta sarung tangan serasa tidak berfungsi. Dingin tetap menggigit. Dinding penginapan yang kami sewa serasa berubah menjadi balok es.

Jam 04.00, jeep yang kami sewa telah menjemput. Untuk menghangatkan badan saya melipir ke warung sebelah penginapan untuk menyeduh bubuk jahe merah dan pop mie untuk sekedar mengisi perut. Jeep sewaan seharga 250.000 ini pun mengantarkan kami ke kaki gunung pananjakan. Dari sini kami melakukan tracking selama setengah jam untuk mencapai puncak gunung panajakan. Spot menanti sunrise di Bromo.

padang savana, bromo

padang savana, bromo

Namanya diatas gunung, angin yang bertiup pun semakin kencang, dan tentunya dingin yang kami rasakan semakin menjadi jadi. Untuk sekedar menghangatkan badan, saya mendekati tukang gorengan, membeli beberapa pisang goreng lalu duduk di dekat tungku perapian. Yihaaa….gak jadi beku deh.

Namun sayang, seperti menanti abang yang tak kunjung datang dari rantauan, pun yang kami alami, sunrisenya tertutup kabut tebal. Menjelang jam 6 pagi, sedikit demi sedikit lembah sekitar bromo mulai terlihat. CANTIK!!!. Sempat berkeinginan untuk menunggu kabut benar-benar hilang untuk menikmati view gunung bromo yang bersanding dengan gunung batok, tapi demi menghemat waktu akhirnya kami memutuskan untuk turun menikmati padang pasir serta padang savanna yang biasa disebut bukit teletubbies.

Hamparan padang pasir bromo, jeep yang parkir berjajar, dengan latar belakang gagahnya gunung bromo dan gunung batok. ini di Indonesia yah? itu lah yang ada dipikiran saya saat betapa pemandangan indah terhampar di depan mata. Kamipun tidak menyianyiakan momen ini. Yak!!! foto-foto narsis dimulai…

Saltum, harusnya jangan pakai baju hitam😀

padang savana bromo - Is it in Indonesia?

Setelah padang pasir bromo, kami kembali berdecak kagum, kali ini dengan keindahan padang savana disebelah utara gunung bromo. Bukit yang hijau dan langit yang biru adalah kombinasi yang sempurna saat itu. Cantik luar biasa, dan ini di Indonesia lho. Dimana pemandangan serupa bisa ditemukan di pegunungan Alpen Swiss atau di New Zealand.

Namun untuk mencapai padang savanna ini, biaya sewa jeep bertambah 150.000, totalnya menjadi 400.000. Mahal memang, namun ini terbayar lunas dengan cantiknya view yang kita lihat.

Bersambung…

About Aliya Mu'afa

Backpackers, graphic designer, blogger and founder triphemat.com

Posted on February 10, 2012, in Travelling. Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. kereeeennnn,, ditunggu kelanjutannya,,🙂

  2. KeRennn Mba,,,tiap hari ku buka Blog dan Fb diRiMu seLalu,, berharap Next Trip berikutnya aku bisa merasakan keindahan Alam Ciptaan Yang MaHa Esa…
    heee hee
    SeLalu di Tunggu y Mba, info Next Trip nya …
    berharap.com

  3. Iya neeh.. tau2 aja ada postingan.. kapan perginya.. kapan bikin acaranya..??
    Hadewwhh bikin ngileerr….

  4. siph… kyk.y suka jelajah ne…

  5. mba, waktu disana, nginep dmana?
    penginapan disana sekitar berapaan ya? yg ekonomis tp lumayan bersahabat kondisinya mba..
    makasii mba…

  1. Pingback: Explore Beautiful Bromo & Arround Part 2 « Travelicious

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: