Selalu Ada Cerita Dibalik Kendala (Saat Travelling)

view di belakang penginapan Pelabuhan Sape

Travelling itu ibarat miniaturnya hidup yang kita jalani. Gak selalu berjalan mulus kayak jalan aspal, pasti, yak! sekali lagi PASTI menemui kendala. entah itu saat menuju sebuah destinasi, saat menikmati destinasi tersebut atau bahkan sepulang dari sebuah destinasi. Tapi layaknya hidup, kita gak bisa berbuat banyak untuk menghindari berbagai kendala. Yang bisa kita lakukan hanya bisa menikmatinya. Dan kelak akan menjadi cerita yang tidak akan terlupa.

pohon tumbang yang menutupi ruas jalan

Pun dengan beberapa trip yang saya jalani bersama beberapa teman atau saat sendirian. Udah gak kehitung lagi berapa banyak kendala yang saya temui. Awalnya saya menyesali kendala-kendala tersebut sebagai akibat dari kecerobohan ataupun kesialan saya. Sampai ada seorang teman yang mengingatkan bahwa kendala tersebut justru adalah tujuan yang sebenarnya kita cari, jadi tidak ada jalan lain untuk menghadapi sebuah kendala selain menikmatinya dan membiarkan semuanya mengalir mengikuti alurnya, sampai kita menyadari betapa sebuah kendala justru ibu dari segala cerita.

Misalnya, kendala yang saya dan beberapa teman lainnya alami saat trip sailing bali – lombok – komodo juni bulan lalu. Saat itu kami mengejar waktu dari sembalun lombok menuju terminal mandalika untuk melanjutkan perjalanan menuju Bima Sumbawa. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WITA saat kami selesai menikmati air terjun sendang gile dan tiu kelep di kaki rinjani, itu artinya kami cuma punya waktu 2 jam pas untuk menuju terminal mandalika, gak boleh telat atau kami akan ketinggalan bus terakhir. Avanza yang mengangkut kami dipacu secepat mungkin, sampai pada akhirnya perjalanan kami terpaksa berhenti karena pohon besar yang tumbang hingga menutupi semua ruas jalan. Hampir pasrah akhirnya saya menelpon calo bus di terminal mandalika dan memohon agar menunggu kami tiba.

Penginapan murah di Pelabuhan Sape

1 jam berlalu akhirnya kami sampai juga di terminal setelah pohon tersebut disingkirkan dengan truk dan bantuan warga. 1 jam telat ternyata berdampak begitu besar, keterlambatan tersebut ternyata menimbulkan efek domino hingga akhirnya jadwal yang kami targetkan meleset jauh. Harusnya kami sampai Bima subuh, lalu menajutkan perjalanan ke pelabuhan Sape dan tiba pukul 07.00 WITA dan jam 08.00 WITA langsung naik Ferry menuju Labuan Bajo Flores. Namun karena efek domino tersebut akhirnya kami baru tida di pelabuhan sape jam 13.00 WITA.

Dengan perasaan kecewa akhirnya kami terpaksa bermalam di pelabuhan Sape menunggu keberangkatan Ferry esok hari. Dengan bantuan warga sekitar yang ramah kami diantar ke sebuah penginapan tak jauh dari pelabuhan. Ada 2 penginapan, namun kami diantar ke penginapan yang secara fisik kurang meyakinkan karena masih dalam tahap pembangunan. Tapi ketika masuk ternyata kamarnya sangat nyaman dan murah meriah hanya Rp. 100rb/malam. dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata penginapan tersebut memiliki halamana belakang yang langsung menghadap laut dengan pemandangan yang luar biasa indah.

Pulau Bajo, Sape

Pantai pasir putih, Pulau Bajo

underwater Pulau Bajo, Sape

bintang laut merah

Tak cukup sampai disitu, atas saran petugas pelabuhan Sape, sore harinya kami menyewa perahu untuk ke pulau Bajo. Konon disana terdapat pantai pasir putih yang indah dan kita bisa mengunjungi pulau  yang dihuni oleh suku Bajo. Dannnnn….tenyata indah tak cukup menggambarkan pantai tersebut. Lebih dari itu, pantai ini sungguh menakjubkan!!! pasirnya yang putih, airnya yang sangat jernih dibingkai  sangat sempurna dengan batuan karang di tepi pulau. Pun dengan underwaternya, kami sempat snorkeling disini dan yang kami temukan adalah bintang laut  tersebar begitu banyak ditemani ikan-ikan kecil yang lucu.

pemukiman suku Bajo

bermain bersama anak-anak Suku Bajo

The Sunset, Sape Sumbawa

Puas bermain di pantai dan snorkeling kami mampir ke pemukiman suku Bajo. melihat lebih dekat kehidupan suku yang tinggal diatas air  dan berprofesi sebagai nelayan ini. Disini kami sempat berinteraksi dengan warga sekitar dan betapa bahagianya kami saat mengetahui bahwa mereka sangat peduli dengan pendidikan. Anak-anak suku Bajo sekolah hingga tingkat perguruan tinggi, mereka kuliah di Bima dan kembali ke pulau saat libur tiba. Subhanallah….

Jadi, masih mengeluh saat menemui kendala (saat travelling)? enjoy the journey and you will get the strory.

About Aliya Mu'afa

Backpackers, graphic designer, blogger and founder triphemat.com

Posted on July 18, 2012, in my journal, Travelling. Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. Menyenangkan ya bisa ketemu dan menikmati liburan sama penduduk lokal juga🙂🙂

  2. iya bu.. sama kaya yg waktu ke jogja kemaren.. yg ga dapet tiket jogja lah… elf-nya mogok lah…

  3. Mbak, kalau boleh bagi info penginapan di Pelabuhan Sapenya dong…. Rencananya 10 Nov 2012 ini kami dgn temen BPI akan akan singgah di sini dlm trip kami ke komodo.

    Thankz banget.

  4. Mantap sekali liburan seperti ini mbak!, serasa menjadi bocah petualang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: